A. Pengertian Konsep Diri
Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Definisi yang lebih rinci lagi adalah sebagai berikut:
a. Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat ) yang dimiliki (Brehm & Kassin, 1993).
b. Atau juga diartikan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimilki individu tentang karakteristik dan ciri-ciri pribadinya (Worchel, 2000).
c. Definisi lain menyebutkan bahwa Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri
d. Konsep diri adalah pandangan dan perasaan individu tentang dirinya
sendiri yang dapat bersifat psikologis, sosial dan fisik (Brooks).
A. Jenis- jenis Konsep Diri
Menurut William D.Brooks bahwa dalam menilai dirinya seseorang ada yang menilai positif dan ada yang menilai negatif. Maksudnya individu tersebut ada yang mempunyai konsep diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif.
Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah :
1. Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
2. Merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak sombong, mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain.
3. Menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
4. Mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di lingkungannya.
Tanda-Tanda individu yang memiliki konsep diri negatif adalah :
1. Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari individu tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
2. Cenderung bersikap hiperkritis. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun.
3. Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain.
4. Bersikap psimis terhadap kompetisi. Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
B. Perkembangan Konsep Diri
Rini (2004:1) konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia sejak kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dari lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya.
Perkembangan konsep diri adalah proses sepanjang hidup. Setiap tahap perkembangan mempunyai aktivitas spesifik yang membantu setiap individu dalam mengembangkan konsep diri yang positif.
C. Fungsi Konsep Diri
Dalam konsep diri ini terdapat beberapa fungsi antara lain:
1. Penilaian diri merupakan pandangan diri terhadap pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri, dan suasana hati yang sedang kita hayati seperti bahagia, sedih atau cemas. Keadaan ini akan mempengaruhi konsep diri kita positif atau negatif.
2. Penilaian sosial merupakan evaluasi terhadap bagaimana individu menerima penilaian lingkungan sosial pada diri nya. Penilaian sosial terhadap diri yang cerdas, supel akan mampu meningkatkan konsep diri dan kepercayaan diri. Adapun pandangan lingkungan pada individu seperti si gendut, si bodoh atau si nakal akan menyebabkan individu memiliki konsep diri yang buruk terhadap dirinya.
3. Konsep lain yang terdapat dalam pengertian konsep diri adalah self image atau citra diri, yaitu merupakan gambaran siapa saya.
D. Konsep Diri Dan Pengaruhnya Terhadap Tingkah laku
Konsep diri memiliki peranan penting dalam menentukan perilaku individu yaitu sebagai cermin bagi individu dalam memandang dirinya. Individu akan bereaksi terhadap lingkungannya sesuai dengan konsep dirinya, menurut Burns (1993) pembentukan konsep diri memudahkan interaksi sosial individu yang bersangkutan dapat terhadap reaksi orang lain.
E. Konsep Diri Remaja Yang Sehat
Tanda-tanda remaja yang memiliki konsep diri yang positif adalah :
1. Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
2. Merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak sombong, mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain.
3. Menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
4. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
5. Mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di lingkungannya.
F. Konsep Diri Dan Prestasi Sekolah
Konsep diri merupakan seperangkat instrument pengendali mental dan karenanya mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Gunawan (2005) menyebutkan bahwa seseorang yang mempunyai konsep diri positif akan menjadi invidu yang mampu memandang dirinya secara positif, berani mencoba dan mengambil resiko, selalu optimis, percaya diri, dan antusias menetapkan arah dan tujuan hidup. Terkait dengan pencapaian akademik, hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Shupe dan Yager (2005) dan Yeung dan Marsh dalam O’Mara dkk (2006) menunjukkan bahwa konsep diri dan pencapaian akademik siswa adalah dua hal yang saling memperngaruhi. Hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam berbagai tingkatan mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguran tinggi, seseorang dengan konsep diri yang positif cenderung memiliki pencapaian akademik yang lebih baik.
Bagaimakah sebenarnya konsep diri dapat mempengaruhi pencapaian akademik seseorang? Atau sebaliknya, bagaimanakan pencapaian akademik mempengaruhi konsep diri seseorang? Tripp Jr (2003), Shupe dan Yager (2005) mengemukakan bahwa seseorang dengan konsep diri positif akan mempunyai kemampuan interpersonal dan intrapersonal yang baik pula, yang memungkinkan untuk melakukan evaluasi secara obyektif terhadap dirinya sendiri. Sementara itu menurut Germer (2004), konsep diri merupakan kunci untuk membangun komunikasi terbuka antara guru dan murid sehingga menciptakan partisipasi aktif antara keduanya dalam kegiatan belajar mengajar.
G. Upaya Orang Tua Dan Guru Dalam Membentuk Konsep Diri Serta Implikasinya Bagi Pendidikan
Germer (1974), Cotton (1993), dan O’Mara dkk (2006) menyatakan bahwa guru memegang peranan kunci dalam aktivitas kelas, dan karenanya kesadaran guru terhadap pentingnya pembentukan konsep diri akan menentukan seberapa jauh pembentukan konsep diri dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas belajar mengajar. Bagaimanakah aktivitas belajar mengajar dapat menjadi media pembentukan konsep diri? Germer (1974) menyatakan bahwa aktivitas kelas yang memungkinkan komunikasi dan partisipasi guru – siswa dan siswa – siswa secara lebih aktif, akan membantu siswa menjadi individu yang terbuka dan menerima diri sendiri dengan lebih baik sehingga memacu pembentukan konsep diri positif, menjadi individu yang lebih mampu “mendengar”, merasakan, menghormati, dan menciptakan komunikasi yang lebih terbuka dengan yang lain.
Secara lebih spesifik, Cotton (1993) menguraikan program pengembangan konsep diri anak dilakukan pada basis yang berbeda, dari mulai kelas, sekolah sampai wilayah. Cotton menyatakan bahwa pembentukan konsep diri di dalam kelas dilakukan dengan memberikan tugas berbasis kelompok dan berorientasi kepada pengembangan kemampuan siswa, serta penggunaan umpan balik terhadap kemajuan pembelajaran siswa, dan mengupayakan partisipasi aktif dan komunikasi yang terbuka antara guru – murid – walimurid. Ke semua hal tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan kelas seperti rotasi teman sebangku, pembuatan papan apresiasi siswa terhadap siswa sekaligus pengisian papan pernyataan penyesalan atas kesalahan yang diperbuat siswa terhadap siswa yang lain, pendampingan siswa korban narkoba, pengajaran ketrampilan hidup, Program yang dilakukan secara kontinyu tersebut, menghasilkan perubahan positif dalam diri siswa seperti penurunan angka drop out, peningkatan kehadiran siswa, penurunan kegagalan siswa dalam mata pelajaran, dan meningkatnya rasa kepedulian siswa terhadap lainnya.
Implikasinya dalam pendidikan, Siapa saya? Mungkin ini menjadi salah satu pertanyaan penting yang harus dijawab sesorang jika ingin maju dan berkembang. Konsep diri merupakan cuatu cara untuk menjawab pertanyaan ini. Kini, di saat pendidikan menjadi tulang punggung untuk menciptakan individu yang berkualitas, pembentukan konsep diri positif pada anak didik adalah suatu hal yang tak dapat ditinggalkan, yang harus dilakukan secara kontinyu dan menyeluruh pada setiap tahapan perkembangan anak didik. Di luar rumah, aktivitas kelas dan lingkungan sekolah memberikan warna terhadap pembentukan imdividu anak didik, yang dalam prosesnya peran guru adalah sangat vital. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh ada atau tidaknya kesadaran, kemauan dan kreativitas guru untuk mengintegrasikan pembentukan konsep diri yang positif ke dalam kegiatan pembelajaran.
informasi blog dari blog ini berasal dari makalah yang saya dapat ketika saya semester 4
Tuesday, 25 January 2011
perkembangan hubungan sosial
PERKEMBANGAN HUBUNGAN SOSIAL
A. Pengertian Hubungan Sosial
Beberepa teori tentang perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukan anak-anak sebagai insan yang secara asktif melakukan proses sosialisasi.
Manusia tumbuh dan berkembang didalam lingkungan. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan sesama manusia.
Perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Perhatian remaja mulai tertuju kepada pergaulan didalam masyarakat dan ia (mereka) membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kehidupan kelompok terutama kelompok sebaya sama jenis.
B. Pengaruh Perkembangan Sosial Terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian diri dan kritk dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Dengan refleksi diri, hubungan dengan situasi lingkungan sering tidak sepenuhnya diterima, karena lingkungan tidak senantiasa sejalan dengan konsep dirinya yang tercermin sebagai suatu kemungkinan bentuk tingkah laku sehari-hari.
Pikiiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang lain dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Sikap kritis ini juga ditunjukan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tata cara adat istiadat yang berlaku di lingkungan keluarga sering terasa terjadi atau ada pertentangan dengan sikap kritis yang tampak pada prilakunya.
Disamping itu pengaruh egosentris masih sering terlihat pada pikiran remaja, yaitu:
1. Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh.
2. Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Keluarga
2. Kematangan anak
3. Status sosial ekonomi
4. Pendidikan
5. Kapasitas mental, emosi, dan intelegensi
D. Perbedaan Individu Dalam Perkembangan Sosial
Sesuai dengan teori komperehensif tentang perkembangan sosial yang dikembangkan oleh Erickson, maka di dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya setiap manusia menempuh langkah yang berlainan satu dengan yang lain. Dalam teori Erickson dinyatakan bahwa manusia (anak) hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beraneka ragam.
Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola sosial yang sesuai dengan kepribadiannya.
E. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja Dan Implikasinya Bagi Pendidikan
Remaja dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Mereka belum memahami benar tentang norma-norma sosial yang berlaku di kehidupan bermasyarakat. Keduanya dapat menimbulkan hubungan sosial yang kurang serasi, karena mereka sukar untuk menerima norma sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat. Sikap menentang dan sikap canggung dalam pergaulan akan merugikan kedua belah pihak.
Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsangan kepada mereka kearah prilaku yang bermanfaat dan dapat diterima khalayak. Kelompok olahraga, koperasi, kesenian, dan semacamnya dibawah asuhan para pendidik disekolah atau para tokoh masyarakat di dalam kehidupan masyarakat perlu banyak dibentuk. Khusus didalam sekolah perlu sering diadakan kegiatan bakti sosial, bakti karya, dan kelompok-kelompok belajar dibawah asuhan para guru pembimbing kegiatan ini hendaknya dikembang luaskan.
A. Pengertian Hubungan Sosial
Beberepa teori tentang perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukan anak-anak sebagai insan yang secara asktif melakukan proses sosialisasi.
Manusia tumbuh dan berkembang didalam lingkungan. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan sesama manusia.
Perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Perhatian remaja mulai tertuju kepada pergaulan didalam masyarakat dan ia (mereka) membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kehidupan kelompok terutama kelompok sebaya sama jenis.
B. Pengaruh Perkembangan Sosial Terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian diri dan kritk dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Dengan refleksi diri, hubungan dengan situasi lingkungan sering tidak sepenuhnya diterima, karena lingkungan tidak senantiasa sejalan dengan konsep dirinya yang tercermin sebagai suatu kemungkinan bentuk tingkah laku sehari-hari.
Pikiiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang lain dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Sikap kritis ini juga ditunjukan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tata cara adat istiadat yang berlaku di lingkungan keluarga sering terasa terjadi atau ada pertentangan dengan sikap kritis yang tampak pada prilakunya.
Disamping itu pengaruh egosentris masih sering terlihat pada pikiran remaja, yaitu:
1. Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh.
2. Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Keluarga
2. Kematangan anak
3. Status sosial ekonomi
4. Pendidikan
5. Kapasitas mental, emosi, dan intelegensi
D. Perbedaan Individu Dalam Perkembangan Sosial
Sesuai dengan teori komperehensif tentang perkembangan sosial yang dikembangkan oleh Erickson, maka di dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya setiap manusia menempuh langkah yang berlainan satu dengan yang lain. Dalam teori Erickson dinyatakan bahwa manusia (anak) hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beraneka ragam.
Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola sosial yang sesuai dengan kepribadiannya.
E. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja Dan Implikasinya Bagi Pendidikan
Remaja dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Mereka belum memahami benar tentang norma-norma sosial yang berlaku di kehidupan bermasyarakat. Keduanya dapat menimbulkan hubungan sosial yang kurang serasi, karena mereka sukar untuk menerima norma sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat. Sikap menentang dan sikap canggung dalam pergaulan akan merugikan kedua belah pihak.
Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsangan kepada mereka kearah prilaku yang bermanfaat dan dapat diterima khalayak. Kelompok olahraga, koperasi, kesenian, dan semacamnya dibawah asuhan para pendidik disekolah atau para tokoh masyarakat di dalam kehidupan masyarakat perlu banyak dibentuk. Khusus didalam sekolah perlu sering diadakan kegiatan bakti sosial, bakti karya, dan kelompok-kelompok belajar dibawah asuhan para guru pembimbing kegiatan ini hendaknya dikembang luaskan.
kebutuhan remaja dan pemenuhannya
KEBUTUHAN REMAJA DAN PEMENUHANNYA
A. Kebutuhan Dasar Manusia
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen. Setiap orang pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, akan tetapi karena budaya, maka kebutuhan tersebutpun ikut berbeda. Dalam memenuhi kebutuhan manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Lalu jika gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan berpikir lebih keras dan berusaha mendapatkannya.Kebutuhan dasar manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor berikut :
1. Penyakit
Adanya penyakit dalam tubuh dapat menyebabkan perubahan pemenuhan pemenuhan kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis, karena beberapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan besar dari biasanya.
2. Hubungan Keluarga
Hubungan keluarga yang baik dapat meningkatan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya, merasakan kesenangan hidup, tidak ada rasa curiga, dan lain-lain.
3. Konsep Diri
Konsep diri manusia memiliki peran dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan (wholeness) bagi seseorang. Konsep diri yang sehat menghasilkan perasaan positif terhadap diri. Orang yang merasa positif tentang dirinya akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup yang sehat, sehingga mudah memenuhi kebutuhan.
4. Tahap Perkembangan
Sejalan dengan meningkatnya usia manusia mengalami perkembangan. Setiap tahap perkembangan tersebut memiliki kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial maupun spiritual, mengingat berbagai fungsi organ tubuh mengalami proses kematangan dengan aktivitas yang berbeda untuk setiap tahap perkembangan.
Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow
dibagi ke dalam lima tingkat sebagai berikut:
1) Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar, antara lain pemenuhan oksigen dan pertukaran gas, kebutuhan cairan (minuman), nutrisi (makanan), eliminasi, istirahat dan tidur, aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, dan seksual.
2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan psikologis.
• Perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup seperti penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan dan sebagainya.
• Perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya, kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali, karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain dan sebagainya.
3) Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, antara lain memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, mendapat tempat dalam keluarga, kelompok sosial, dan sebagainya.
4) Kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan ini terkait, dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.
5) Kebutuhan aktualiasasi diri merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain/lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.
B. Teori Kebutuhan Individu
Pada diri individu terdapat ketidak seimbangan baik yang bersifat fisiologis maupun psikologis yang telah di campuri oleh unsur pengalaman dan hasil belajar. Untuk menyeimbangkan kembali suasana fisiologis maupun suasana psikologis, seseorang harus mempunyai dorongan untuk kembali pada keseimbangan.
1. Teori individu pada umumnya
Inti dari teori Maslow adalah bahwa kebutuhan itu tersusun dalam suatu hirarki. Kebutuhan yang tertinggi adalah kebutuhan realisasi diri. Lima tingkatan kebutuhan menurut Maslow yaitu :
a) Kebutuhan Fisiologi
b) Kebutuhan akan keselamatan dan keamanan
c) Kebutuhan rasa kemasyarakatan
d) Rasa ingin dihargai.
e) Kebutuhan untuk Mengembangkan diri.
Kelima kebutuhan tersebut di atas saling menunjang dan mengisi pemuasan akan kebutuhan tersebut dan akan terasa puas, namun selang beberapa lama dirasakan kebutuhan yang sama lagi. Manusia secara terus menerus melakukan bermacam - macam rangkaian kegiatan.
2. Teori kebutuhan yang dipelajari oleh Mc Clelland.
Inti teori ini yaitu pemahaman tentang akan semakin mendalam apabila didasari bahwa setiap individu mempunyai tiga jenis kebutuhan yaitu : Need for achierement, Need for Affiliation, dan Need for Power.
3. Kebutuhan peserta didik dalam perkembangannya.
Tujuh kebutuhan khas peserta didik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan-kebutuhan yaitu : faktor undividual, faktoir sosial, faktor kultural, danm faktor religius. Dengan pandangan sosial psikologis kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah :
Kebutuhan untuk menerim afeksi dari kelompok atau individu.
Kebutuhan untuk memberikan sumbangan kepada kelompoknya.
Kebutuhan untuk memahami.
Kebutuhan untuk mempelajari dan menyelidiki sesuatu.
C. Kebutuhan Khas Pada Usia Remaja
Adanya tujuh macam kebutuhan khas remaja itu secara umum memang ada pada kebanyakan anak muda, tetapi tingkat intensitasnya sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarga masing-masing, faktor sosial, individual, kultural dan religius. Untuk remaja Indonesia, kecenderungan agar mendapat pengakuan sebagai orang yang mampu menjadi dewasa, mendapat perhatian penuh dan kebutuhan akan kasih sayang tampak lebih menonjol dibanding kebutuhan lainnya. Nah, tidak ada langkah lain lagi yang dapat menjadi dasar pemahaman pada remaja kecuali menumbuhkan perhatian juga kasih sayang yang lebih dalam buat mereka. Tujuh kebutuhan khas remaja adalah sebagai berikut :
1.Dapat curahan kasih sayang.
2. Dapat diterima dalam kelompok.
3.Keinginan dapat mandiri.
4.Bisa berprestasi.
5.Dapat pengakuan sebagai prestise.
6. Dapat dihargai.
7. Memperoleh falsafah hidup.
D. Masalah Kebutuhan Remaja dan Konsekuensinya
Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan –kebutuhannya:
1) Upaya untuk mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi dewasa tidak semuanya dapat dicapai dengan mudah.
2) Sering para remaja mengalamai kesulitan untuk menerima perbahan-perubahan fisiknya.
3) Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering salah tingkah dan perilaku menjadikannya menentang norma.
4) Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian kebanyakan akan mengalami masalah terutama penyesuaian emosional.
5) Harapan untuk dapat berdiri sendiri berkaitan dengan masalah pemilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan.
6) Berbagai norma dan nilai dalam masyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja.
Pada dasarnya setiap remaja meghendaki semua kebutuhannya dapat terpenuhi secara wajar.Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut secara memadai akan menimbulkan keseimbangan dan keutuhan pribadi. Remaja yang kebutuhan pribadinya memadai akan memperoloeh suatu kepuasan hidup, Selanjutnya remaja akan merasa gembira, harmonis dan produktif manakala kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara memadai.
Sebaliknya, remaja akan mengalami kekecewaan, ketidakpuasan, atau bahkan frustasi, dan pada akhirnya akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya.jika kebutuhannya tidak terpenuhi.
E. Usaha-Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok. Kebutuhan ini harus dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya agar tetap tegar (survival). Tidak berbeda dengan pemenuhan kebutuhan serupa di masa perkembangan sebelumnya, kebutuhan ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama ekonomi keluarga. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhn fisik ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi dan perkembanagn psiko-sosial seorang individu. Menghadapi kebutuhan ini latihan kebersihan , hidup teratur dan sehat sangat perlu ditanamkan oleh orang tua, sekolah dan linkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja. Realisasi hal ini di sekolah adalah pendidikan kesehatan, pendidikan jasmani, dan pentingnya usaha kesehatan sekolah (UKS). Khusus kebutuhan seksual, yang hal ini juga merupakan kebutuhna fisik remaja, usaha pemenuhannya harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Sekalipun kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini menyangkut factor lain untuk diperhatikan dalam pemenuhannya. Orang tua harus cukup tanggap dan waspada secara dini menjelaskan dan memberikan pengertian arti dan fungsi kehidupan seksual bagi remaja (terutama wanita) dan arti seksual dalam kehidupan secara luas. Pemenuhan kebutuhan dan dorongan seksual pada remaja, di mana pada saat itu mereka telah menyadari akan adanya norma agama, sosial dan hukum, maka banyak dilakukan secara diam-diam.
Pendidikan seksual di sekolah dan terutama di dalam keluarga harus mendapatkan perhatian. Progaram bimbingan keluarga, dan program bimbingan perkawinan dapat dilakukan secara periodik oleh setia organisasi ibu-ibu dan organiasasi wanita pada umumnya. Sekolah sekali-sekali perlu mendatangkan ahli atau dokter untuk memberikan penjelasan tentang masalah-masalah remaja, khususnya masalah seksual. Selain itu perlu juga diadakan program bimbingan keagamaan karena yang mampu untuk mengendalikan hawa nafsu pada dasarnya adalah rasa keimanan pada Allah SWT.
Untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakat dan mengenalkan berbagai norma sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan, seperti kelompok olah raga, kelompok seni musik, kelompok koperasi, kelompok belajar, dan semacamnya. Pada kesempatan sekolah menyelenggarakan acara-acara tertentu seperti perpisahan sekolah, ada baiknya anak-anak ditugasi untuk ikut mengurus atau dimasukkan sebagai panitia penyelenggara.
A. Kebutuhan Dasar Manusia
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen. Setiap orang pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, akan tetapi karena budaya, maka kebutuhan tersebutpun ikut berbeda. Dalam memenuhi kebutuhan manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Lalu jika gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan berpikir lebih keras dan berusaha mendapatkannya.Kebutuhan dasar manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor berikut :
1. Penyakit
Adanya penyakit dalam tubuh dapat menyebabkan perubahan pemenuhan pemenuhan kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis, karena beberapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan besar dari biasanya.
2. Hubungan Keluarga
Hubungan keluarga yang baik dapat meningkatan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya, merasakan kesenangan hidup, tidak ada rasa curiga, dan lain-lain.
3. Konsep Diri
Konsep diri manusia memiliki peran dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan (wholeness) bagi seseorang. Konsep diri yang sehat menghasilkan perasaan positif terhadap diri. Orang yang merasa positif tentang dirinya akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup yang sehat, sehingga mudah memenuhi kebutuhan.
4. Tahap Perkembangan
Sejalan dengan meningkatnya usia manusia mengalami perkembangan. Setiap tahap perkembangan tersebut memiliki kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial maupun spiritual, mengingat berbagai fungsi organ tubuh mengalami proses kematangan dengan aktivitas yang berbeda untuk setiap tahap perkembangan.
Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow
dibagi ke dalam lima tingkat sebagai berikut:
1) Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar, antara lain pemenuhan oksigen dan pertukaran gas, kebutuhan cairan (minuman), nutrisi (makanan), eliminasi, istirahat dan tidur, aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, dan seksual.
2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan psikologis.
• Perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup seperti penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan dan sebagainya.
• Perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya, kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali, karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain dan sebagainya.
3) Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, antara lain memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, mendapat tempat dalam keluarga, kelompok sosial, dan sebagainya.
4) Kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan ini terkait, dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.
5) Kebutuhan aktualiasasi diri merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain/lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.
B. Teori Kebutuhan Individu
Pada diri individu terdapat ketidak seimbangan baik yang bersifat fisiologis maupun psikologis yang telah di campuri oleh unsur pengalaman dan hasil belajar. Untuk menyeimbangkan kembali suasana fisiologis maupun suasana psikologis, seseorang harus mempunyai dorongan untuk kembali pada keseimbangan.
1. Teori individu pada umumnya
Inti dari teori Maslow adalah bahwa kebutuhan itu tersusun dalam suatu hirarki. Kebutuhan yang tertinggi adalah kebutuhan realisasi diri. Lima tingkatan kebutuhan menurut Maslow yaitu :
a) Kebutuhan Fisiologi
b) Kebutuhan akan keselamatan dan keamanan
c) Kebutuhan rasa kemasyarakatan
d) Rasa ingin dihargai.
e) Kebutuhan untuk Mengembangkan diri.
Kelima kebutuhan tersebut di atas saling menunjang dan mengisi pemuasan akan kebutuhan tersebut dan akan terasa puas, namun selang beberapa lama dirasakan kebutuhan yang sama lagi. Manusia secara terus menerus melakukan bermacam - macam rangkaian kegiatan.
2. Teori kebutuhan yang dipelajari oleh Mc Clelland.
Inti teori ini yaitu pemahaman tentang akan semakin mendalam apabila didasari bahwa setiap individu mempunyai tiga jenis kebutuhan yaitu : Need for achierement, Need for Affiliation, dan Need for Power.
3. Kebutuhan peserta didik dalam perkembangannya.
Tujuh kebutuhan khas peserta didik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan-kebutuhan yaitu : faktor undividual, faktoir sosial, faktor kultural, danm faktor religius. Dengan pandangan sosial psikologis kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah :
Kebutuhan untuk menerim afeksi dari kelompok atau individu.
Kebutuhan untuk memberikan sumbangan kepada kelompoknya.
Kebutuhan untuk memahami.
Kebutuhan untuk mempelajari dan menyelidiki sesuatu.
C. Kebutuhan Khas Pada Usia Remaja
Adanya tujuh macam kebutuhan khas remaja itu secara umum memang ada pada kebanyakan anak muda, tetapi tingkat intensitasnya sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarga masing-masing, faktor sosial, individual, kultural dan religius. Untuk remaja Indonesia, kecenderungan agar mendapat pengakuan sebagai orang yang mampu menjadi dewasa, mendapat perhatian penuh dan kebutuhan akan kasih sayang tampak lebih menonjol dibanding kebutuhan lainnya. Nah, tidak ada langkah lain lagi yang dapat menjadi dasar pemahaman pada remaja kecuali menumbuhkan perhatian juga kasih sayang yang lebih dalam buat mereka. Tujuh kebutuhan khas remaja adalah sebagai berikut :
1.Dapat curahan kasih sayang.
2. Dapat diterima dalam kelompok.
3.Keinginan dapat mandiri.
4.Bisa berprestasi.
5.Dapat pengakuan sebagai prestise.
6. Dapat dihargai.
7. Memperoleh falsafah hidup.
D. Masalah Kebutuhan Remaja dan Konsekuensinya
Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan –kebutuhannya:
1) Upaya untuk mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi dewasa tidak semuanya dapat dicapai dengan mudah.
2) Sering para remaja mengalamai kesulitan untuk menerima perbahan-perubahan fisiknya.
3) Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering salah tingkah dan perilaku menjadikannya menentang norma.
4) Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian kebanyakan akan mengalami masalah terutama penyesuaian emosional.
5) Harapan untuk dapat berdiri sendiri berkaitan dengan masalah pemilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan.
6) Berbagai norma dan nilai dalam masyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja.
Pada dasarnya setiap remaja meghendaki semua kebutuhannya dapat terpenuhi secara wajar.Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut secara memadai akan menimbulkan keseimbangan dan keutuhan pribadi. Remaja yang kebutuhan pribadinya memadai akan memperoloeh suatu kepuasan hidup, Selanjutnya remaja akan merasa gembira, harmonis dan produktif manakala kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara memadai.
Sebaliknya, remaja akan mengalami kekecewaan, ketidakpuasan, atau bahkan frustasi, dan pada akhirnya akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya.jika kebutuhannya tidak terpenuhi.
E. Usaha-Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok. Kebutuhan ini harus dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya agar tetap tegar (survival). Tidak berbeda dengan pemenuhan kebutuhan serupa di masa perkembangan sebelumnya, kebutuhan ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama ekonomi keluarga. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhn fisik ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi dan perkembanagn psiko-sosial seorang individu. Menghadapi kebutuhan ini latihan kebersihan , hidup teratur dan sehat sangat perlu ditanamkan oleh orang tua, sekolah dan linkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja. Realisasi hal ini di sekolah adalah pendidikan kesehatan, pendidikan jasmani, dan pentingnya usaha kesehatan sekolah (UKS). Khusus kebutuhan seksual, yang hal ini juga merupakan kebutuhna fisik remaja, usaha pemenuhannya harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Sekalipun kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini menyangkut factor lain untuk diperhatikan dalam pemenuhannya. Orang tua harus cukup tanggap dan waspada secara dini menjelaskan dan memberikan pengertian arti dan fungsi kehidupan seksual bagi remaja (terutama wanita) dan arti seksual dalam kehidupan secara luas. Pemenuhan kebutuhan dan dorongan seksual pada remaja, di mana pada saat itu mereka telah menyadari akan adanya norma agama, sosial dan hukum, maka banyak dilakukan secara diam-diam.
Pendidikan seksual di sekolah dan terutama di dalam keluarga harus mendapatkan perhatian. Progaram bimbingan keluarga, dan program bimbingan perkawinan dapat dilakukan secara periodik oleh setia organisasi ibu-ibu dan organiasasi wanita pada umumnya. Sekolah sekali-sekali perlu mendatangkan ahli atau dokter untuk memberikan penjelasan tentang masalah-masalah remaja, khususnya masalah seksual. Selain itu perlu juga diadakan program bimbingan keagamaan karena yang mampu untuk mengendalikan hawa nafsu pada dasarnya adalah rasa keimanan pada Allah SWT.
Untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakat dan mengenalkan berbagai norma sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan, seperti kelompok olah raga, kelompok seni musik, kelompok koperasi, kelompok belajar, dan semacamnya. Pada kesempatan sekolah menyelenggarakan acara-acara tertentu seperti perpisahan sekolah, ada baiknya anak-anak ditugasi untuk ikut mengurus atau dimasukkan sebagai panitia penyelenggara.
tugas perkembangan remaja
Tugas- Tugas Perkembangan Remaja
A. Pengertian Tugas- Tugas Perkembangan Remaja
Perjalanan kehidupan manusia akan melewati beberapa fase (periode masa) pertumbuhan atau perkembangan yaitu : fase bayi, fase kanak-kanak, fase pertumbuhan dan perkembangan mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus dilakukan dalam rangka mencapai kebahagiaan dalam kehidupan masyarakat.
Havighuerst (1961) menyatakan bahwa tugas perkembangan adalah ”Tugas yang muncul pada saat periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, akan tetapi kalau gagal menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berkutnya”.
Contoh :
Tugas perkembangan masa bayi, pada usia 1,0 - 2,0 anak pada umumnya mulai belajar berbicara dan pada akhir usia 2,0 masih banyak hal yang harus dipelajari, meskipun mereka telah memulainya dengan baik. Namun ada beberapa kasus bahwa anak-anak pada usia 1,0 - 2,0 belum bisa berbicara dengan baik, dan hal ini dapat mempengaruhi tugas perkembangan berikutnya.
Disini Individu diharapkan menguasai tugas-tugas tertentu dalam sepanjang rentang kehidupannya. Hal ini menjadi penting karena dengan kesadaran akan mempengaruhi pola hidup dan perilakunya sendiri, kegagalan dan atau hambatan sebaiknya diatasi sedini mungkin.
Kegagalan dalam menguasai tugas perkembangan pada tertentu mengandung beberapa kosekuensi. Antara lain :
a. Pertimbangan-pertimbangan sosial yang kurang menyenangkan tidak dapat dihindari.
b. Konsekuensi yang tidak ada kuatnya fondamen atau dasar untuk penguasaan tugas-tugas perkembangan berikutnya.
Tugas- tugas perkembangan mempunyai 3 macam tujuan yang sangat bermanfaat bagi individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan yaitu sebagai berikut :
1. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia- usia tertentu.
2. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
3. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang mereka hadapi da tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya.
Ada 3 macam bahaya potensial yang menjadi penghambat peyelesaian tugas perkembangannya yaitu sebagai berikut :
1) Harapan- harapan yang kurang tepat, baik individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
2) Melangkahi tahap- tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas- tugas tertentu.
3) Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan- tingkatan yag lain.
B. Menguraikan Tugas- Tugas Remaja
Menurut Havighurst, ada sejumlah tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh remaja, yaitu sebagai berikut :
1. Mencapai hubungan baru yang lebih matang denagn teman sebaya baik pria maupun wanita.
a) Hakikat Tugas
Mempelajari anak perempuan sebagai wanita dan anak laki-laki sebagai pria, dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain.
b) Dasar Biologis
Secara bologis manusia terbagi atas dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa remaja ini.
c) Dasar Psikologis.
Peserta didik belajar untuk bertingkah laku sebagai orang dewasa sedang dalam jenis kelamin lain peserta belajar menguasai keterampilan sosial.
2. Mencapai Peran Sosial Pria dan Wanita
a) Hakikat Tugas
Mempelajari Peran Sosial Sebagai Pria dan Wanita berdasarkan jenis kelamin.
b) Dasar Biologis
Ditinjau dari kekuatan fisik si gadis menjadi orang yang lebih lemah bila di bandingkan dengan pria.
c) Dasar Psikologis
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan secara Efektif
a) Hakikat Tugas
Menjadi bangga keadaan atau sekurang-kurangnya toleran dengan tubuh sendiri serta menggunakannya secara efektif.
b) Dasar Biologis
Perkembangan peserta didik di sertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual.
c) Dasar Psikologis
d) Perubahan bentuk tubuh disertai dengan perubahan sikap dan minat peserta didik.
4. Mencapai kemandirian kemandirian Emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
a) Hakikat Tugas
Bertujuan untuk membebaskan sifat kanak-kanak yang selalu menguntungkan diri pada orang tua.
b) Dasar Biologis
Tugas ini terletak pada kematangan seksual individu.
c) Dasar Psikologi
Pada masa ini peserta didik mengalami sikap ambiualen terhadap orang tuanya.
5. Mencapai jaminan kebebasan ekonomis
a) Hakikat tugas
Ini adalah merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri.
b) Dasar biologis
Tak ada dasar biologis yang berarti untuk, melaksanakan tugas ini meskipun kekuatan dan keterampilan fisik memang sangan bermanfaat untuk mencapai tugas ini.
c) Dasar psikologis
Berkaitan erat dangan hasrat untuk berdiri sendiri.
6. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan
a ) Hakikat tugas.
Ini adalah memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan, serta mempersiapkan pekerjaan ini.
b) Dasar biologis.
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh sesuatu lapangan pekerjaan.
c) Dasar psikologis.
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan peserta didik, ternyata pada kaum peserta didik yang berusia 16 sampai 19 tahun, minat yang utama tertuju untuk pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan.
7. Persiapan untuk memasuki pekerjaan dan kehidupan berkeluarga
a) Hakikat tugas.
Ini adalah mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga dan mempunyai anak, khusus untuk gadis inilah memperoleh pengetahuan pengalaman yang penting bagi pengelolaan rumah dan pengurusan anak.
b) Dasar biologis.
Hasil kematangan seks yang normal adalah ketertarikan antar lawan jenis kelamin, ketertarikan ini menjadi perkawinan.
c) Dasar psikoilogis.
Sikap peserta didik terhadp perkawinan varibilitasnya besar ada yang menunjukkan ras takut, ada pulka yang menunjukkan perkawinan adalah sebagai kebahagian hidup.
8. Mengemnbangkan keterampilan intelekyual dan konsep yang penting kompetensi kewarganegaraan negara
a) Hakikat tugas.
Ini adalah mengembangkan konsep tentang hukum politik, ekonomi, dan kemasyarakatan yang penting untuk kehidupan bermasyarakat.
b) Dasar biologis.
Sistem saraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan pada usia 14 tahun.
c) Dasar psikologis.
Sebagai hasil dari kombinasi perbedaan biologis yang dibawa sejak lahir dan perbedaan pengalaman, adolesen menunjukkan kemampuan kejiwaan yang cukup besar, perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan ini secara prinsipil erat hubungannya dengan konsep-konsep, minat dan motovasi.
9. Mencapai dan menharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
a) Hakikat tugas.
Ialah berpartisipasi sebagai orang yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dalam bertingkah laku.
b) Dasar biologis.
Tidak ada, tugas ini berkaitan erat dengan masyarakat terhadap individu, kecuali kalau menerima adanya insting sosial pada manusia ataupun memandang alttruisme yang dilakukan peserta didik merupakan sublimasi dari pada dorongan seks.
c) Dasar psikologis.
Proses untuk mengikat individu kepada kelompok sosialnya berlangsung sejak orang dilahirkan.
10. Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan sistem etika sebagi pedoman tingkah laku.
a) Hakikat tugas.
Membentuk suatu himpunan nilai-nilai yang realisasinya memungkinkan mengembangkan niat yang ditandai untuk merealisasikan nilai-nilai, mendefinisikan tempat menusia dalam dunia fisik dan dalam hunbungannya dengan manusia lain, gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan yang lain.
b) Dasar psikologis.
Fakta hasil observasi menunjukkan bahwa banyak anak muda yang menaruh perhatian pada problem filosofis dan agama.
C. Merumuskan Usaha Pendidikan Membantu Tugas dan Perkembangan Remaja
Rekomendasi dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Perlu adanya upaya
penyempurnaan kebijakan berhubungan dengan pelaksanaan program Pendidikan
Budi Pekerti di Sekolah; (2) Pendidikan budi pekerti perlu diintegrasikan
dalam mata pelajaran civics, pendidikan agama, dan mata pelajaran lain yang
relevan; (3) Perlu dirumuskan kebijakan pendidikan yang bersinergis dalam
rangka mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi pertumbuhan dan
perkembangan nilai-nilai budi pekerti dalam diri siswa, dalam ketiga
lingkungan pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Implikasinya: (1) Melakukan kajian ulang tentang kekuatan dan kelemahan
dalam pengajaran PMP dan PPKn, sehingga tidak cukup berkesan dalam pembinaan
budi pekerti siswa; (2) Merumuskan Program Pendidikan Budi Pekerti dan
strategi pelaksanaannya, yang lebih sesuai dengan tuntutan masyarakat, yakni
menjadi sarana yang efektif dalam rangka pembinaan kepribadian siswa; (3)
merumuskan program pengintegrasian materi pendidikan budi pekerti dalam mata
pelajaran civics, pendidikan agama, dan mata pelajaran lain yang relevan;
(4) Merumuskan norma dan strategi kerja sama yang bersinergik dengan orang
tua/wali dalam rangka pembinaan budi pekerti siswa; (5) Menyusun dan
melaksanakan program pembinaan kemampuan profesional dan kepribadian guru,
sehingga guru dapat menjadi sosok teladan yang berwibawa di hadapan siswa;
(6) Merumuskan norma kehidupan sekolah, sebagai acuan bagi guru, karyawan
dan siswa, dalam rangka mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif,
memberikan keteladanan, dan membiasakan pengalaman norma-norma sosial yang ideal kepada siswa; (7) Menyusun program pengkajian ulang tentang kebijakan evaluasi pendidikan yang berhubungan dengan mata pelajaran yang memuat materi pendidikan budi pekerti saat ini; (8) Merumuskan kerja sama yang bersinergik dengan berbagai instansi terkait
D. Implikasi Tugas-Tugas Perkembangan Peserta didik dalam penyelenggaraan Pendidikan.
1) Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberi kesempatan melaksanakan kegiatan-kegiatan non akademik melalui perkumpulan.
2) Bila tidak terjadi seorang pria atau wanita tidak sesuai dengan jenis kelamin, maka ia perlu dibantu melalui bimbingan dan konseling.
3) Siswa yang lambat perkembangan jasmaninya diberi kesempatan berlomba dalam kegiatan kelompoknya sendiri.
4) Pemberi bantuan kepada siswa untuk memilih lapangan pekerjaan yang sesuai.
A. Pengertian Tugas- Tugas Perkembangan Remaja
Perjalanan kehidupan manusia akan melewati beberapa fase (periode masa) pertumbuhan atau perkembangan yaitu : fase bayi, fase kanak-kanak, fase pertumbuhan dan perkembangan mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus dilakukan dalam rangka mencapai kebahagiaan dalam kehidupan masyarakat.
Havighuerst (1961) menyatakan bahwa tugas perkembangan adalah ”Tugas yang muncul pada saat periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, akan tetapi kalau gagal menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berkutnya”.
Contoh :
Tugas perkembangan masa bayi, pada usia 1,0 - 2,0 anak pada umumnya mulai belajar berbicara dan pada akhir usia 2,0 masih banyak hal yang harus dipelajari, meskipun mereka telah memulainya dengan baik. Namun ada beberapa kasus bahwa anak-anak pada usia 1,0 - 2,0 belum bisa berbicara dengan baik, dan hal ini dapat mempengaruhi tugas perkembangan berikutnya.
Disini Individu diharapkan menguasai tugas-tugas tertentu dalam sepanjang rentang kehidupannya. Hal ini menjadi penting karena dengan kesadaran akan mempengaruhi pola hidup dan perilakunya sendiri, kegagalan dan atau hambatan sebaiknya diatasi sedini mungkin.
Kegagalan dalam menguasai tugas perkembangan pada tertentu mengandung beberapa kosekuensi. Antara lain :
a. Pertimbangan-pertimbangan sosial yang kurang menyenangkan tidak dapat dihindari.
b. Konsekuensi yang tidak ada kuatnya fondamen atau dasar untuk penguasaan tugas-tugas perkembangan berikutnya.
Tugas- tugas perkembangan mempunyai 3 macam tujuan yang sangat bermanfaat bagi individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan yaitu sebagai berikut :
1. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia- usia tertentu.
2. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
3. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang mereka hadapi da tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya.
Ada 3 macam bahaya potensial yang menjadi penghambat peyelesaian tugas perkembangannya yaitu sebagai berikut :
1) Harapan- harapan yang kurang tepat, baik individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
2) Melangkahi tahap- tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas- tugas tertentu.
3) Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan- tingkatan yag lain.
B. Menguraikan Tugas- Tugas Remaja
Menurut Havighurst, ada sejumlah tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh remaja, yaitu sebagai berikut :
1. Mencapai hubungan baru yang lebih matang denagn teman sebaya baik pria maupun wanita.
a) Hakikat Tugas
Mempelajari anak perempuan sebagai wanita dan anak laki-laki sebagai pria, dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain.
b) Dasar Biologis
Secara bologis manusia terbagi atas dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa remaja ini.
c) Dasar Psikologis.
Peserta didik belajar untuk bertingkah laku sebagai orang dewasa sedang dalam jenis kelamin lain peserta belajar menguasai keterampilan sosial.
2. Mencapai Peran Sosial Pria dan Wanita
a) Hakikat Tugas
Mempelajari Peran Sosial Sebagai Pria dan Wanita berdasarkan jenis kelamin.
b) Dasar Biologis
Ditinjau dari kekuatan fisik si gadis menjadi orang yang lebih lemah bila di bandingkan dengan pria.
c) Dasar Psikologis
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan secara Efektif
a) Hakikat Tugas
Menjadi bangga keadaan atau sekurang-kurangnya toleran dengan tubuh sendiri serta menggunakannya secara efektif.
b) Dasar Biologis
Perkembangan peserta didik di sertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual.
c) Dasar Psikologis
d) Perubahan bentuk tubuh disertai dengan perubahan sikap dan minat peserta didik.
4. Mencapai kemandirian kemandirian Emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
a) Hakikat Tugas
Bertujuan untuk membebaskan sifat kanak-kanak yang selalu menguntungkan diri pada orang tua.
b) Dasar Biologis
Tugas ini terletak pada kematangan seksual individu.
c) Dasar Psikologi
Pada masa ini peserta didik mengalami sikap ambiualen terhadap orang tuanya.
5. Mencapai jaminan kebebasan ekonomis
a) Hakikat tugas
Ini adalah merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri.
b) Dasar biologis
Tak ada dasar biologis yang berarti untuk, melaksanakan tugas ini meskipun kekuatan dan keterampilan fisik memang sangan bermanfaat untuk mencapai tugas ini.
c) Dasar psikologis
Berkaitan erat dangan hasrat untuk berdiri sendiri.
6. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan
a ) Hakikat tugas.
Ini adalah memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan, serta mempersiapkan pekerjaan ini.
b) Dasar biologis.
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh sesuatu lapangan pekerjaan.
c) Dasar psikologis.
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan peserta didik, ternyata pada kaum peserta didik yang berusia 16 sampai 19 tahun, minat yang utama tertuju untuk pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan.
7. Persiapan untuk memasuki pekerjaan dan kehidupan berkeluarga
a) Hakikat tugas.
Ini adalah mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga dan mempunyai anak, khusus untuk gadis inilah memperoleh pengetahuan pengalaman yang penting bagi pengelolaan rumah dan pengurusan anak.
b) Dasar biologis.
Hasil kematangan seks yang normal adalah ketertarikan antar lawan jenis kelamin, ketertarikan ini menjadi perkawinan.
c) Dasar psikoilogis.
Sikap peserta didik terhadp perkawinan varibilitasnya besar ada yang menunjukkan ras takut, ada pulka yang menunjukkan perkawinan adalah sebagai kebahagian hidup.
8. Mengemnbangkan keterampilan intelekyual dan konsep yang penting kompetensi kewarganegaraan negara
a) Hakikat tugas.
Ini adalah mengembangkan konsep tentang hukum politik, ekonomi, dan kemasyarakatan yang penting untuk kehidupan bermasyarakat.
b) Dasar biologis.
Sistem saraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan pada usia 14 tahun.
c) Dasar psikologis.
Sebagai hasil dari kombinasi perbedaan biologis yang dibawa sejak lahir dan perbedaan pengalaman, adolesen menunjukkan kemampuan kejiwaan yang cukup besar, perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan ini secara prinsipil erat hubungannya dengan konsep-konsep, minat dan motovasi.
9. Mencapai dan menharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab
a) Hakikat tugas.
Ialah berpartisipasi sebagai orang yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dalam bertingkah laku.
b) Dasar biologis.
Tidak ada, tugas ini berkaitan erat dengan masyarakat terhadap individu, kecuali kalau menerima adanya insting sosial pada manusia ataupun memandang alttruisme yang dilakukan peserta didik merupakan sublimasi dari pada dorongan seks.
c) Dasar psikologis.
Proses untuk mengikat individu kepada kelompok sosialnya berlangsung sejak orang dilahirkan.
10. Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan sistem etika sebagi pedoman tingkah laku.
a) Hakikat tugas.
Membentuk suatu himpunan nilai-nilai yang realisasinya memungkinkan mengembangkan niat yang ditandai untuk merealisasikan nilai-nilai, mendefinisikan tempat menusia dalam dunia fisik dan dalam hunbungannya dengan manusia lain, gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan yang lain.
b) Dasar psikologis.
Fakta hasil observasi menunjukkan bahwa banyak anak muda yang menaruh perhatian pada problem filosofis dan agama.
C. Merumuskan Usaha Pendidikan Membantu Tugas dan Perkembangan Remaja
Rekomendasi dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Perlu adanya upaya
penyempurnaan kebijakan berhubungan dengan pelaksanaan program Pendidikan
Budi Pekerti di Sekolah; (2) Pendidikan budi pekerti perlu diintegrasikan
dalam mata pelajaran civics, pendidikan agama, dan mata pelajaran lain yang
relevan; (3) Perlu dirumuskan kebijakan pendidikan yang bersinergis dalam
rangka mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif bagi pertumbuhan dan
perkembangan nilai-nilai budi pekerti dalam diri siswa, dalam ketiga
lingkungan pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Implikasinya: (1) Melakukan kajian ulang tentang kekuatan dan kelemahan
dalam pengajaran PMP dan PPKn, sehingga tidak cukup berkesan dalam pembinaan
budi pekerti siswa; (2) Merumuskan Program Pendidikan Budi Pekerti dan
strategi pelaksanaannya, yang lebih sesuai dengan tuntutan masyarakat, yakni
menjadi sarana yang efektif dalam rangka pembinaan kepribadian siswa; (3)
merumuskan program pengintegrasian materi pendidikan budi pekerti dalam mata
pelajaran civics, pendidikan agama, dan mata pelajaran lain yang relevan;
(4) Merumuskan norma dan strategi kerja sama yang bersinergik dengan orang
tua/wali dalam rangka pembinaan budi pekerti siswa; (5) Menyusun dan
melaksanakan program pembinaan kemampuan profesional dan kepribadian guru,
sehingga guru dapat menjadi sosok teladan yang berwibawa di hadapan siswa;
(6) Merumuskan norma kehidupan sekolah, sebagai acuan bagi guru, karyawan
dan siswa, dalam rangka mewujudkan lingkungan sosial yang kondusif,
memberikan keteladanan, dan membiasakan pengalaman norma-norma sosial yang ideal kepada siswa; (7) Menyusun program pengkajian ulang tentang kebijakan evaluasi pendidikan yang berhubungan dengan mata pelajaran yang memuat materi pendidikan budi pekerti saat ini; (8) Merumuskan kerja sama yang bersinergik dengan berbagai instansi terkait
D. Implikasi Tugas-Tugas Perkembangan Peserta didik dalam penyelenggaraan Pendidikan.
1) Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberi kesempatan melaksanakan kegiatan-kegiatan non akademik melalui perkumpulan.
2) Bila tidak terjadi seorang pria atau wanita tidak sesuai dengan jenis kelamin, maka ia perlu dibantu melalui bimbingan dan konseling.
3) Siswa yang lambat perkembangan jasmaninya diberi kesempatan berlomba dalam kegiatan kelompoknya sendiri.
4) Pemberi bantuan kepada siswa untuk memilih lapangan pekerjaan yang sesuai.
calak edu
Calak Edu
Equality of Condition
Senin, 26 April 2010
Ringkasan Artikel Ini
ADA banyak aliran dalam filsafat pendidikan, yang masing-masing memiliki cara untuk menggugat kondisi internal dan personal seseorang dalam menyikapi kebutuhan ilmu pengetahuan ataupun kondisi eksternal seseorang dalam mengambil posisi terhadap kebutuhan belajar orang per orang. Dalam equality of condition fokus kita berikan bukan hanya terhadap tujuan dan proses (purposes and process) pendidikan itu sendiri, melainkan juga berkaitan dengan kesetaraan terhadap sumber daya (equality of resources), kesetaraan dalam pengakuan dan penghargaan (respect and recognition), kesetaraan dalam kekua-saan (equality of power), dan kesetaraan dalam kepedulian, solidaritas, dan cinta (lmc, care and solidarity). Kesetaraan sumber daya harus dibuktikan dengan penciptaan sistem pendidikan yang lebih terbuka dan nondiskriminatif, sedangkan kesetaraan dalam pengakuan dan respek harus diciptakan bukan hanya dengan membangun budaya sekolah yang menghargai perbedaan, tetapi juga harus diekspresikan secara tertulis dalam skema pedagogis dan kurikulum yang memadai.
Menurut saya, dari artikel ini, saya menemukan suatu hal yang positif yaitu design dalam manajemen kurikulum yang coba di buat oleh pemerintah dan para pemikir pendidikan dari segi konstruksi kurikulum sudah dapat dilihat yaitu
a. Theoritical Based : Dari segi filosofi, aliran dalam filsafat pendidikan, yang masing-masing memiliki cara untuk menggugat kondisi internal dan personal seseorang dalam menyikapi kebutuhan ilmu pengetahuan ataupun kondisi eksternal seseorang dalam mengambil posisi terhadap kebutuhan belajar orang per orang.
Dari segi teori, Perubahan perilaku (behaviorisme), pemahaman konsep (kognitivisme), eksistensi pengalaman seseorang (humanistik), kebutuhan akan informasi (sibernetik) dan kondisi psikologis seseorang (motivasi).
b. Step II => Aplication Based
Kedua, pengembangan kurikulum, yang mana dizaman sekarang ini, kesetaraan kondisi sangat diperlukan, saya setuju dengan artikel ini yang mana membahas equality of condition fokus kita berikan bukan hanya terhadap tujuan dan proses (purposes and process) pendidikan itu sendiri, melainkan juga berkaitan dengan kesetaraan terhadap sumber daya (equality of resources), Bagi organ sekolah dan stakeholders pendidikan agar tidak melihat keberhasilan dunia pendidikan saja tetapi mempertanyakan apa perannya masing-masing. Tidak lupa penulis mengharapkan decision makers agar menyederhanakan jumlah mata pelajaran sehingga siswa tidak terbebani dengan begitu banyak jumlah pelajaran dan akhirnya kehilangan motivasi belajar. Kita menginginkan sesuatu yang jumlahnya sedikit tetapi isinya padat dari pada jumlahnya banyak tetapi isinya tiada. Barangkali perlu dipikirkan cara-cara untuk menumbuhkembangkan konsep berpikir yang tahan uji pada diri peserta didik, bukan sekedar menuntut prosentase kelulusan. Oleh karena itu, perlu juga dibangkitkan wacana publik tentang adanya konstitusi pendidikan yang tidak terkontaminasi dengan muatan-muatan politis dan mengatur secara jelas kurikulum yang stabil serta pengalokasian dana pendidikan yang cukup untuk membiayai pendidikan, kesetaraan dalam pengakuan dan penghargaan (respect and recognition), kesetaraan dalam kekua-saan (equality of power), dan kesetaraan dalam kepedulian, solidaritas, dan cinta (lmc, care and solidarity). Kesetaraan sumber daya harus dibuktikan dengan penciptaan sistem pendidikan yang lebih terbuka dan nondiskriminatif, sedangkan kesetaraan dalam pengakuan dan respek harus diciptakan bukan hanya dengan membangun budaya sekolah yang menghargai perbedaan, tetapi juga harus diekspresikan secara tertulis dalam skema pedagogis dan kurikulum yang memadai.
Ketiga modifikasi lembaga, Pada pembukaan UUD 1945 alinea keempat disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupkan bangsa. Hal tersebut didetailkan lebih lanjut pada batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 yang mengatur mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Pada pasal tersebut dikatakan bahwa:
1. Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan
2. Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan Negara wajib membiayainya
3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang
Demikian, pada pasal tersebut jelas terlihat tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh generasi bangsa untuk mengenyam pendidikan demi menjadi bangsa yang cerdas. Pendidikan akan mencetak generasi-generasi cerdas, tangguh dan berkarakter dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang akan menentukan kemajuan bangsa ini.
Bangsa cerdas adalah bangsa yang sanggup menyelesaikan berbagai permasalahan dirinya tanpa perlu bergantung pada pihak lain. Ia juga dapat mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki negaranya, baik SDA maupun SDM guna kepentingan dan kemajuan Bangsanya. Satu hal lagi, bangsa cerdas adalah bangsa yang memiliki kedaulatan penuh atas negaranya. Kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa adanya intervensi dari pihak lain, baik bentuk intervensi konkret maupun tersembunyi. Itulah tujuan hakiki dari pendidikan Indonesia, dan sesuai dengan amanah konstitusi tersebut, Pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional guna mencapai tujuan pendidikan Indonesia. Perlu diingat bahwa kurikulum merupakan hal amat penting dalam pelaksanaan pendidikan. Kurikulum merepresentasikan tujuan dan esensi dari pelaksanaan suatu pendidikan. Jika memang benar tujuan pendidikan negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas SDM bangsa ini, maka mau tidak mau Pemerintah harus melakukan kontrol yang sangat terperinci terhadap kurikulum dalam menjamin ketercapaian tujuan pendidikan karena kurikulum sangat terkait dengan apa-apa yang diajarkan kepada peserta didik. Kontrol Pemerintah terhadap kurikulum bukan berarti menyamaratakan materi-materi pengajaran pada setiap institusi pendidikan tinggi. Namun yang perlu dijaga adalah nilai-nilai dan tujuan dari materi pengajaran tersebut yang diperuntukan untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia demi kemajuan Bangsa.
Equality of Condition
Senin, 26 April 2010
Ringkasan Artikel Ini
ADA banyak aliran dalam filsafat pendidikan, yang masing-masing memiliki cara untuk menggugat kondisi internal dan personal seseorang dalam menyikapi kebutuhan ilmu pengetahuan ataupun kondisi eksternal seseorang dalam mengambil posisi terhadap kebutuhan belajar orang per orang. Dalam equality of condition fokus kita berikan bukan hanya terhadap tujuan dan proses (purposes and process) pendidikan itu sendiri, melainkan juga berkaitan dengan kesetaraan terhadap sumber daya (equality of resources), kesetaraan dalam pengakuan dan penghargaan (respect and recognition), kesetaraan dalam kekua-saan (equality of power), dan kesetaraan dalam kepedulian, solidaritas, dan cinta (lmc, care and solidarity). Kesetaraan sumber daya harus dibuktikan dengan penciptaan sistem pendidikan yang lebih terbuka dan nondiskriminatif, sedangkan kesetaraan dalam pengakuan dan respek harus diciptakan bukan hanya dengan membangun budaya sekolah yang menghargai perbedaan, tetapi juga harus diekspresikan secara tertulis dalam skema pedagogis dan kurikulum yang memadai.
Menurut saya, dari artikel ini, saya menemukan suatu hal yang positif yaitu design dalam manajemen kurikulum yang coba di buat oleh pemerintah dan para pemikir pendidikan dari segi konstruksi kurikulum sudah dapat dilihat yaitu
a. Theoritical Based : Dari segi filosofi, aliran dalam filsafat pendidikan, yang masing-masing memiliki cara untuk menggugat kondisi internal dan personal seseorang dalam menyikapi kebutuhan ilmu pengetahuan ataupun kondisi eksternal seseorang dalam mengambil posisi terhadap kebutuhan belajar orang per orang.
Dari segi teori, Perubahan perilaku (behaviorisme), pemahaman konsep (kognitivisme), eksistensi pengalaman seseorang (humanistik), kebutuhan akan informasi (sibernetik) dan kondisi psikologis seseorang (motivasi).
b. Step II => Aplication Based
Kedua, pengembangan kurikulum, yang mana dizaman sekarang ini, kesetaraan kondisi sangat diperlukan, saya setuju dengan artikel ini yang mana membahas equality of condition fokus kita berikan bukan hanya terhadap tujuan dan proses (purposes and process) pendidikan itu sendiri, melainkan juga berkaitan dengan kesetaraan terhadap sumber daya (equality of resources), Bagi organ sekolah dan stakeholders pendidikan agar tidak melihat keberhasilan dunia pendidikan saja tetapi mempertanyakan apa perannya masing-masing. Tidak lupa penulis mengharapkan decision makers agar menyederhanakan jumlah mata pelajaran sehingga siswa tidak terbebani dengan begitu banyak jumlah pelajaran dan akhirnya kehilangan motivasi belajar. Kita menginginkan sesuatu yang jumlahnya sedikit tetapi isinya padat dari pada jumlahnya banyak tetapi isinya tiada. Barangkali perlu dipikirkan cara-cara untuk menumbuhkembangkan konsep berpikir yang tahan uji pada diri peserta didik, bukan sekedar menuntut prosentase kelulusan. Oleh karena itu, perlu juga dibangkitkan wacana publik tentang adanya konstitusi pendidikan yang tidak terkontaminasi dengan muatan-muatan politis dan mengatur secara jelas kurikulum yang stabil serta pengalokasian dana pendidikan yang cukup untuk membiayai pendidikan, kesetaraan dalam pengakuan dan penghargaan (respect and recognition), kesetaraan dalam kekua-saan (equality of power), dan kesetaraan dalam kepedulian, solidaritas, dan cinta (lmc, care and solidarity). Kesetaraan sumber daya harus dibuktikan dengan penciptaan sistem pendidikan yang lebih terbuka dan nondiskriminatif, sedangkan kesetaraan dalam pengakuan dan respek harus diciptakan bukan hanya dengan membangun budaya sekolah yang menghargai perbedaan, tetapi juga harus diekspresikan secara tertulis dalam skema pedagogis dan kurikulum yang memadai.
Ketiga modifikasi lembaga, Pada pembukaan UUD 1945 alinea keempat disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupkan bangsa. Hal tersebut didetailkan lebih lanjut pada batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 yang mengatur mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Pada pasal tersebut dikatakan bahwa:
1. Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan
2. Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan Negara wajib membiayainya
3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang
Demikian, pada pasal tersebut jelas terlihat tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh generasi bangsa untuk mengenyam pendidikan demi menjadi bangsa yang cerdas. Pendidikan akan mencetak generasi-generasi cerdas, tangguh dan berkarakter dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang akan menentukan kemajuan bangsa ini.
Bangsa cerdas adalah bangsa yang sanggup menyelesaikan berbagai permasalahan dirinya tanpa perlu bergantung pada pihak lain. Ia juga dapat mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki negaranya, baik SDA maupun SDM guna kepentingan dan kemajuan Bangsanya. Satu hal lagi, bangsa cerdas adalah bangsa yang memiliki kedaulatan penuh atas negaranya. Kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa adanya intervensi dari pihak lain, baik bentuk intervensi konkret maupun tersembunyi. Itulah tujuan hakiki dari pendidikan Indonesia, dan sesuai dengan amanah konstitusi tersebut, Pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional guna mencapai tujuan pendidikan Indonesia. Perlu diingat bahwa kurikulum merupakan hal amat penting dalam pelaksanaan pendidikan. Kurikulum merepresentasikan tujuan dan esensi dari pelaksanaan suatu pendidikan. Jika memang benar tujuan pendidikan negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas SDM bangsa ini, maka mau tidak mau Pemerintah harus melakukan kontrol yang sangat terperinci terhadap kurikulum dalam menjamin ketercapaian tujuan pendidikan karena kurikulum sangat terkait dengan apa-apa yang diajarkan kepada peserta didik. Kontrol Pemerintah terhadap kurikulum bukan berarti menyamaratakan materi-materi pengajaran pada setiap institusi pendidikan tinggi. Namun yang perlu dijaga adalah nilai-nilai dan tujuan dari materi pengajaran tersebut yang diperuntukan untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia demi kemajuan Bangsa.
pendidikan untuk masa depan : Ahmad Tafsir
Ahmad Tafsir adalah seorang pakar pendidikan yang sangat memperhatikan mutu pendidikan. Pendidikan untuk masa depan ialah salah satu karya beliau yang diterbitkan dalam buku bunga rampai. Saya sangat setuju dengan pendapat beliau yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia harus disempurnakan agar dapat menghasilkan output yang berkualitas pula. Pendidikan di Indonesia memang harus diperbaharui dari mulai proses, kurikulum, dan sistem pendidikan sehingga nantinya lulusan dapat menghadapi tantangan di masa depan.
Pendidikan kita saat ini, pendidikan modern, adalah sebuah alat yang dipakai untuk belajar bagaimana mempertahankan hidup di zaman sekarang. Semua pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan zaman sekarang. Anak-anak sekarang sejak dini telah diperkenalkan dengan komputer, karena komputer telah menjadi sebuah identitas baru di era ini. Kita juga sering mendengar istilah seperti link-and-match yang menginginkan lulusan perguruan tinggi untuk bisa langsung terjun langsung oleh suatu lembaga perusahaan.
Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Pendidikan tidak mungkin jauh dari proses globalisasi. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Untuk itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab. Di samping itu, pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.
Arus globalisasi yang ditopang oleh teknologi informasi menyebabkan arus informasi begitu cepat. Dan arus ini sebenarnya tidak hanya membawa pengetahuan tetapi juga nilai-nilai. Apakah nilai-nilai ini dapat bersifat negatif atau positif?, dapat diterima atau tidak dapat diterima?, akan bergantung pada nilai-nilai yang dihayati dalam suatu bangsa. Barangkali semakin berkembangnya kebiasaan dunia barat dalam hal gaya hidup seperti pola berpakaian, kebiasaan makan, rekreasi tidak banyak merugikan. Namun demikian secara tidak langsung sebagian kebiasaan ini beriplikasi pada nilai moral.
Manusia abad 21 harus mampu berpikir kritis dan kemauan kerja keras, mereka dituntut mampu mendefinisikan permasalahan dengan system perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Manusia pada abad 21 harus kreatif, mampu menciptakan solusi baru untuk permasalahan lama.
Manusia abad 21 memerlukan kemampuan untuk berkomunikasi efektif di dalam berbagai media dengan berbagai pendengar. Dengan memberikan sejumlah pilihan komunikasi. Di abad 21 banyak pekerjaan dan permasalahan hidup menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi, terkait dengan hal ini menjadi hal yang mustahil hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah, manusia abad 21 dituntut menjadi pembelajaran mandiri.
Merubah sistem pendidikan indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena system pendidikan kita sudah terlanjur tercemar dengan KKN. Bahwa sungguh ironis memang, di saat semua kebutuhan hidup melambung tinggi, seluruh warga Indonesia mengalami mahalnya biaya pendidikan, baik dari yang paling rendah seperti kelompok bermain play group sampai perguruan tinggi semua mematok harga yang sangat fantastis. Pendidikan dijadikan sebagai lahan untuk mengeruk keuntungan. Janji pendidikan gratis pun tampak semu. Padahal, tak bisa dipungkiri, pendidikan merupakan alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan Jaminan untuk dapat hidup dan berinteraksi dalam percaturan global. Dan Juga untuk meningkalkan masa depan bangsa. Para orang tua pun banyak yang sadar akan hal itu.
Karenanya, banyak orang tua yang berusaha semaksimal mungkin menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah terbaik agar mendapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan bagi yang mampu. Bagaimana dengan yang tidak berpunya?
Pada pembukaan UUD 1945 alinea keempat disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupkan bangsa. Hal tersebut didetailkan lebih lanjut pada batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 yang mengatur mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Pada pasal tersebut dikatakan bahwa: “ Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan, setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan Negara wajib membiayainya, dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang
Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh generasi bangsa untuk mendapatkan pendidikan demi menjadi bangsa yang cerdas. Pendidikan akan mencetak generasi-generasi cerdas, tangguh dan berkarakter dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang akan menentukan kemajuan bangsa ini.
Saya juga setuju dengan pendapat beliau yang mengatakan bahwa pendidikan sekolah untuk masa depan harus memiliki kurikulum utama yang terdiri dari pendidikan agama dan moral. Hal itu dimulai dari seorang pendidik. Dalam mata kuliah profesi keguruan yang saya dapatkan disemester IV bahwa seorang pendidik harus memiliki 4 kompetensi yaitu kepribadian, pedagogik, social dan profesionalisme. Bahwa seorang pendidik mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat besar. Jika ia salah memberi materi, maka kesalahan itu akan mengakar pada diri peserta didiknya. Contoh, seorang pendidik yang memberikan jawaban soal UN, yang secara tidak langsung memberikan materi tentang ketidak jujuran dan ada kemungkinan mengakar ketika dewasa menjadi kepribadian professional dalam pengelapan uang negara. Maka itu, diperlukan pendidikan moral.
Pendidikan kita saat ini, pendidikan modern, adalah sebuah alat yang dipakai untuk belajar bagaimana mempertahankan hidup di zaman sekarang. Semua pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan zaman sekarang. Anak-anak sekarang sejak dini telah diperkenalkan dengan komputer, karena komputer telah menjadi sebuah identitas baru di era ini. Kita juga sering mendengar istilah seperti link-and-match yang menginginkan lulusan perguruan tinggi untuk bisa langsung terjun langsung oleh suatu lembaga perusahaan.
Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Pendidikan tidak mungkin jauh dari proses globalisasi. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Untuk itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab. Di samping itu, pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.
Arus globalisasi yang ditopang oleh teknologi informasi menyebabkan arus informasi begitu cepat. Dan arus ini sebenarnya tidak hanya membawa pengetahuan tetapi juga nilai-nilai. Apakah nilai-nilai ini dapat bersifat negatif atau positif?, dapat diterima atau tidak dapat diterima?, akan bergantung pada nilai-nilai yang dihayati dalam suatu bangsa. Barangkali semakin berkembangnya kebiasaan dunia barat dalam hal gaya hidup seperti pola berpakaian, kebiasaan makan, rekreasi tidak banyak merugikan. Namun demikian secara tidak langsung sebagian kebiasaan ini beriplikasi pada nilai moral.
Manusia abad 21 harus mampu berpikir kritis dan kemauan kerja keras, mereka dituntut mampu mendefinisikan permasalahan dengan system perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Manusia pada abad 21 harus kreatif, mampu menciptakan solusi baru untuk permasalahan lama.
Manusia abad 21 memerlukan kemampuan untuk berkomunikasi efektif di dalam berbagai media dengan berbagai pendengar. Dengan memberikan sejumlah pilihan komunikasi. Di abad 21 banyak pekerjaan dan permasalahan hidup menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi, terkait dengan hal ini menjadi hal yang mustahil hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah, manusia abad 21 dituntut menjadi pembelajaran mandiri.
Merubah sistem pendidikan indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena system pendidikan kita sudah terlanjur tercemar dengan KKN. Bahwa sungguh ironis memang, di saat semua kebutuhan hidup melambung tinggi, seluruh warga Indonesia mengalami mahalnya biaya pendidikan, baik dari yang paling rendah seperti kelompok bermain play group sampai perguruan tinggi semua mematok harga yang sangat fantastis. Pendidikan dijadikan sebagai lahan untuk mengeruk keuntungan. Janji pendidikan gratis pun tampak semu. Padahal, tak bisa dipungkiri, pendidikan merupakan alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan Jaminan untuk dapat hidup dan berinteraksi dalam percaturan global. Dan Juga untuk meningkalkan masa depan bangsa. Para orang tua pun banyak yang sadar akan hal itu.
Karenanya, banyak orang tua yang berusaha semaksimal mungkin menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah terbaik agar mendapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan bagi yang mampu. Bagaimana dengan yang tidak berpunya?
Pada pembukaan UUD 1945 alinea keempat disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupkan bangsa. Hal tersebut didetailkan lebih lanjut pada batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 yang mengatur mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Pada pasal tersebut dikatakan bahwa: “ Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan, setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan Negara wajib membiayainya, dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang
Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh generasi bangsa untuk mendapatkan pendidikan demi menjadi bangsa yang cerdas. Pendidikan akan mencetak generasi-generasi cerdas, tangguh dan berkarakter dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang akan menentukan kemajuan bangsa ini.
Saya juga setuju dengan pendapat beliau yang mengatakan bahwa pendidikan sekolah untuk masa depan harus memiliki kurikulum utama yang terdiri dari pendidikan agama dan moral. Hal itu dimulai dari seorang pendidik. Dalam mata kuliah profesi keguruan yang saya dapatkan disemester IV bahwa seorang pendidik harus memiliki 4 kompetensi yaitu kepribadian, pedagogik, social dan profesionalisme. Bahwa seorang pendidik mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat besar. Jika ia salah memberi materi, maka kesalahan itu akan mengakar pada diri peserta didiknya. Contoh, seorang pendidik yang memberikan jawaban soal UN, yang secara tidak langsung memberikan materi tentang ketidak jujuran dan ada kemungkinan mengakar ketika dewasa menjadi kepribadian professional dalam pengelapan uang negara. Maka itu, diperlukan pendidikan moral.
konstruksi kurikulum pelajaran sosiologi
Konstruksi Kurikulum
Manajemen kurikulum adalah sebuah proses rancangan dan penyampaian dimensi- dimensi curiculum construction, curiculum development, implementation, fed back, evaluation, dan modification and institutionalization.
Dalam kerangka kurikulum yang termasuk dalam design adalah:
1. Konstruksi kurikulum terdiri atas :
a) Step 1 => Theoritical Based
Theoritical Based : Dari segi filosofi
Dari segi teori
b) Step II => Aplication Based
User => Pengguna
Buku sosiologi adalah buku favorit saya sewaktu di Madrasah Aliyah, selain guru yang mengajar sewaktu itu sangat profesional, sehingga pada pelajaran sosiologi sangat senang dan mudah di pahami, karena sosiologi adalah ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan manusia lain dalam kelompok (seperti keluarga, kelas sosial atau masyarakat) dan produk-produk yang timbul dari interaksi tersebut, seperti nilai norma serta kebiasaan yang dianut oleh kelompok atau masyarakat tersebut.
Jika ditanya mengenai apakah buku itu dari segi konstruksi kurikulum, apa telah memenuhi 2 langkah yaitu theoritical based, dan aplication based. Menurut saya buku ini telah memenuhinya :
1) Dari Segi Theoritical Based
• Dari segi filosofis
Seperti telah saya kemukakan, sosiologi berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang selama ini terjadi dalam kenyataan yaitu perubahan sosial di masyarakat. Sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentangmasyarakat dan kebudayaannya. Masyarakat menjadi tempat manusia berinteraksi sosial dengan manusia lainnya.Dalam masyarakat tersebut, terjadi berbagai fenomena yang melibatkan anggota masyarakatnya. Oleh karena itu, sebagai anggota masyarakat, seseorang perlu memahami lingkungan tempat ia berinteraksi sehingga dapat melaksanakan perannya sebagai anggota masyarakat.
• Dari segi teori
Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi. Misalnya seorang sosiologi mengkaji dan mengamati kenakalan remaja di Indonesia saat ini, mereka akan mengkaji mengapa remaja tersebut nakal, mulai kapan remaja tersebut berperilaku nakal, sampai memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota baik individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang cocok bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah. Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya. Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkungan masyarakat. Ruang lingkup kajian sosiologi tersebut jika dirincikan menjadi beberapa hal, misalnya antara lain:
• Ekonomi beserta kegiatan usahanya secara prinsipil yang berhubungan dengan produksi, distribusi,dan penggunaan sumber-sumber kekayaan alam;
• Masalah manajemen yaitu pihak-pihak yang membuat kajian, berkaitan dengan apa yang dialami warganya;
• Persoalan sejarah yaitu berhubungan dengan catatan kronologis, misalnya usaha kegiatan manusia beserta prestasinya yang tercatat, dan sebagainya.
Sosiologi menggabungkan data dari berbagai ilmu pengetahuan sebagai dasar penelitiannya. Dengan demikian sosiologi dapat dihubungkan dengan kejadian sejarah, sepanjang kejadian itu memberikan keterangan beserta uraian proses berlangsungnya hidup kelompok-kelompok, atau beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah dari kelompok manusia. Sebagai contoh, riwayat suatu negara dapat dipelajari dengan mengungkapkan latar belakang terbentuknya suatu negara, faktor-faktor, prinsip-prinsip suatu negara sampai perjalanan negara di masa yang akan datang. Sosiologi mempertumbuhkan semua lingkungan dan kebiasaan manusia, sepanjang kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia dan dapat mempengaruhi pengalaman yang dirasakan manusia, serta proses dalam kelompoknya.
Selama kelompok itu ada, maka selama itu pula akan terlihat bentuk-bentuk, cara-cara, standar, mekanisme, masalah, dan perkembangan sifat kelompok tersebut. Semua faktor tersebut dapat mempengaruhi hubungan antara manusia dan berpengaruh terhadap analisis sosiologi.
2) Dari Segi Aplication Based
Objek Sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari induk hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Tujuan Sosiologi adalah meningkatkan daya dan kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Caranya adalah dengan mengembangkan pengetahuan yang objektif mengenai gejala-gejala kemasyarakatan yang dapat dimanfaatkan secara efektif untuk memecahkan masalahmasalah sosial. Mata Pelajaran sosiologi merupakan mata pelajaran yang diberikan sesuai dengankurikulum yang telah ada, yang mana di dalamnya mempelajari masyarakat dengan berbagai macam gejala di dalamnya.
Para siswa adalah anggota masyarakat yang melakukan interaksi sosial. Oleh karena itu, para siswa juga memiliki tanggung jawab terhadapa masyarakat lingkungannya. Diharapakan mereka mampu menjadi anggota masyarakat yang kritis dan tanggap terhadap gejala- gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Mereka juga diharapkan sadar, peduli, dan berperan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal itu dimuali dari permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Dan buku ini, disusun untuk membantu mengembangkan kemapuan terhadap pemahaman siswa terhadap peristiwa yang ada dalam kehidupan sehari- hari. Pemahaman tersebut dapat dipahami melalui konsep- konsep sosiologi; seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur soasial, lemabaga sosial, perubahan sosial, stratifikasi sosial, konflik sosial, serta integrasi sosial. Dalam buku ini, konsep- konsep sosiologi tesebut disajikan dengan pembahasan yang jelas deisertai contoh- contoh yang dekat dengan kehidupan sehari- hari.Siswa juga dilatih untuk mendiskusikan fenomena yang terjadi dalam masyarkat, dan berisi juga kegiatan- kegiatan yang dapat meningkatkan kesadran, kepedulian sosial dalam masyrakat, kreatifitas, dan etos kerja.
Jika ditanya mengenai dalam pelajaran ini apakah lebih banyak unsur knowledge atau unsur skills?, Maka menurut saya , ketika proses belajar- mengajar berlangsung yang lebih dominan adalah unsur knowledge 60 % dan unsur skills 40 %. Karena pada dasarnya tujuan pengajaran sosiologi di Sekolah Menengah Atas pada dasarnya mencakup sasaran yang bersifat kognitif dan yang bersifat praktis. Secara kognitif pengajaran sosiologi dimaksudkan untuk memberikan ilmu pengetahuan dasar sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan ketrampilan sikap dan perilaku sosial yang rasional dan kritis dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Manajemen kurikulum adalah sebuah proses rancangan dan penyampaian dimensi- dimensi curiculum construction, curiculum development, implementation, fed back, evaluation, dan modification and institutionalization.
Dalam kerangka kurikulum yang termasuk dalam design adalah:
1. Konstruksi kurikulum terdiri atas :
a) Step 1 => Theoritical Based
Theoritical Based : Dari segi filosofi
Dari segi teori
b) Step II => Aplication Based
User => Pengguna
Buku sosiologi adalah buku favorit saya sewaktu di Madrasah Aliyah, selain guru yang mengajar sewaktu itu sangat profesional, sehingga pada pelajaran sosiologi sangat senang dan mudah di pahami, karena sosiologi adalah ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan manusia lain dalam kelompok (seperti keluarga, kelas sosial atau masyarakat) dan produk-produk yang timbul dari interaksi tersebut, seperti nilai norma serta kebiasaan yang dianut oleh kelompok atau masyarakat tersebut.
Jika ditanya mengenai apakah buku itu dari segi konstruksi kurikulum, apa telah memenuhi 2 langkah yaitu theoritical based, dan aplication based. Menurut saya buku ini telah memenuhinya :
1) Dari Segi Theoritical Based
• Dari segi filosofis
Seperti telah saya kemukakan, sosiologi berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang selama ini terjadi dalam kenyataan yaitu perubahan sosial di masyarakat. Sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentangmasyarakat dan kebudayaannya. Masyarakat menjadi tempat manusia berinteraksi sosial dengan manusia lainnya.Dalam masyarakat tersebut, terjadi berbagai fenomena yang melibatkan anggota masyarakatnya. Oleh karena itu, sebagai anggota masyarakat, seseorang perlu memahami lingkungan tempat ia berinteraksi sehingga dapat melaksanakan perannya sebagai anggota masyarakat.
• Dari segi teori
Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi. Misalnya seorang sosiologi mengkaji dan mengamati kenakalan remaja di Indonesia saat ini, mereka akan mengkaji mengapa remaja tersebut nakal, mulai kapan remaja tersebut berperilaku nakal, sampai memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota baik individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang cocok bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah. Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya. Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkungan masyarakat. Ruang lingkup kajian sosiologi tersebut jika dirincikan menjadi beberapa hal, misalnya antara lain:
• Ekonomi beserta kegiatan usahanya secara prinsipil yang berhubungan dengan produksi, distribusi,dan penggunaan sumber-sumber kekayaan alam;
• Masalah manajemen yaitu pihak-pihak yang membuat kajian, berkaitan dengan apa yang dialami warganya;
• Persoalan sejarah yaitu berhubungan dengan catatan kronologis, misalnya usaha kegiatan manusia beserta prestasinya yang tercatat, dan sebagainya.
Sosiologi menggabungkan data dari berbagai ilmu pengetahuan sebagai dasar penelitiannya. Dengan demikian sosiologi dapat dihubungkan dengan kejadian sejarah, sepanjang kejadian itu memberikan keterangan beserta uraian proses berlangsungnya hidup kelompok-kelompok, atau beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah dari kelompok manusia. Sebagai contoh, riwayat suatu negara dapat dipelajari dengan mengungkapkan latar belakang terbentuknya suatu negara, faktor-faktor, prinsip-prinsip suatu negara sampai perjalanan negara di masa yang akan datang. Sosiologi mempertumbuhkan semua lingkungan dan kebiasaan manusia, sepanjang kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia dan dapat mempengaruhi pengalaman yang dirasakan manusia, serta proses dalam kelompoknya.
Selama kelompok itu ada, maka selama itu pula akan terlihat bentuk-bentuk, cara-cara, standar, mekanisme, masalah, dan perkembangan sifat kelompok tersebut. Semua faktor tersebut dapat mempengaruhi hubungan antara manusia dan berpengaruh terhadap analisis sosiologi.
2) Dari Segi Aplication Based
Objek Sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari induk hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Tujuan Sosiologi adalah meningkatkan daya dan kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Caranya adalah dengan mengembangkan pengetahuan yang objektif mengenai gejala-gejala kemasyarakatan yang dapat dimanfaatkan secara efektif untuk memecahkan masalahmasalah sosial. Mata Pelajaran sosiologi merupakan mata pelajaran yang diberikan sesuai dengankurikulum yang telah ada, yang mana di dalamnya mempelajari masyarakat dengan berbagai macam gejala di dalamnya.
Para siswa adalah anggota masyarakat yang melakukan interaksi sosial. Oleh karena itu, para siswa juga memiliki tanggung jawab terhadapa masyarakat lingkungannya. Diharapakan mereka mampu menjadi anggota masyarakat yang kritis dan tanggap terhadap gejala- gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Mereka juga diharapkan sadar, peduli, dan berperan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal itu dimuali dari permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Dan buku ini, disusun untuk membantu mengembangkan kemapuan terhadap pemahaman siswa terhadap peristiwa yang ada dalam kehidupan sehari- hari. Pemahaman tersebut dapat dipahami melalui konsep- konsep sosiologi; seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur soasial, lemabaga sosial, perubahan sosial, stratifikasi sosial, konflik sosial, serta integrasi sosial. Dalam buku ini, konsep- konsep sosiologi tesebut disajikan dengan pembahasan yang jelas deisertai contoh- contoh yang dekat dengan kehidupan sehari- hari.Siswa juga dilatih untuk mendiskusikan fenomena yang terjadi dalam masyarkat, dan berisi juga kegiatan- kegiatan yang dapat meningkatkan kesadran, kepedulian sosial dalam masyrakat, kreatifitas, dan etos kerja.
Jika ditanya mengenai dalam pelajaran ini apakah lebih banyak unsur knowledge atau unsur skills?, Maka menurut saya , ketika proses belajar- mengajar berlangsung yang lebih dominan adalah unsur knowledge 60 % dan unsur skills 40 %. Karena pada dasarnya tujuan pengajaran sosiologi di Sekolah Menengah Atas pada dasarnya mencakup sasaran yang bersifat kognitif dan yang bersifat praktis. Secara kognitif pengajaran sosiologi dimaksudkan untuk memberikan ilmu pengetahuan dasar sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan ketrampilan sikap dan perilaku sosial yang rasional dan kritis dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)